02. Pejantan Kampung
Setelah mengantarkan Titi kerumahnya, sekitar jam 01.00 dinihari, Azis
balik lagi ketempat pertunjukkan. Karena saking senangnya nonton
dangdut, Azis tak merasa kelelahan berjalan. Walaupun dia baru saja
bersetubuh dengan Titi.
Saat berjalan melewati kebun pisang, Azis kebelet pingin kencing.
Segera saja Azis masuk ketengah-tengah rimbunnya pohon pisang. Sehabis
kencing Azis menyalakan rokoknya sambil matanya melihat sekelilingnya.
Tiba-tiba matanya tertuju pada bayangan yang sedang bergerak-gerak
yang berjarak sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri. Azis yang merasa
penasaran, berjalan mengendap-endap, mendekati bayangan itu.
Sekitar dua meter dari bayangan itu, Azis menghentikan langkahnya.
Matanya terbelalak melihat pemandangaan disela-sela pohon pisang, di
depannya. Dibawah terangnya sinar bulan purnama, Azis dapat melihat
dengan jelas sahabatnya Joni sedang berjongkok dihadapan Mbak Dewi,
istri Mas
Parjo, tetangganya, yang baru pulang dari Timur Tengah setelah dua
tahun menjadi TKW. Wajah Joni berada pas di depan selangkangan Mbak
Dewi yang sedang berdiri tanpa selembar benang melekat ditubuhnya.
Tangan Joni meraba-raba paha mulus Mbak Dewi, sedangkan lidahnya
menjilati bibir kemaluan wanita itu. Joni mencucuk-cucuk klitoris Mbak
Dewi dengan lidahnya dan menyedot-nyedotnya bibir vagina Mbak Dewi
dengan mulutnya, membuat Mbak Dewi mendesah-desah dan matanya merem
melek merasakan nikmat.
"Oohh.. Jonii.. Enakk.. Teruss.. Truss," desah Mbak Dewi penuh
birahi. Joni semakin bersemangat menjilati vagina Mbak Dewi, sambil
sesekali Joni menjilati lubang anusnya. Membuat Mbak Dewi semakin tak
tahan.
Beberapa menit berlalu Joni menyudahi jilatannya, kemudian dia
merebahkan tubuhnya ditanah, dengan posisi terlentang, beralaskan daun
pisang. Sesaat kemudian Mbak dewi mendekat ke arah Joni, lalu berjongok
diatas selangkangan Joni yang masih tidur terlentang. Selangkangannya
yang
tersibak berada diantara pinggang Joni. Lubang vaginanya yang
terbuka lebar berada diatas penis Joni yang sudah tegang dan berdiri
tegak.
Mbak Dewi meraih penis Joni, dengan lembut Mbak Dewi
mengocok-ngocok penis Joni. Setelah benar-benar tegang dan keras, Mbak
Dewi lalu menempelkan kepala penis Joni dibibir vaginanya.
Perlahan-lahan Mbak Dewi menurunkan pantatnya dan sedikit demi sedikit
batang penis Joni masuk ke lubang vaginanya. Setelah seluruh batang
penis Joni masuk, Mbak Dewi mulai menaik turunkan pantatnya.
"Akhh.. Mbakk.. Nikk.. Matt.. Truss.. Truss," jerit Joni sambil
mengimbangi gerakkan Mbak Dewi dengan menyodok-nyodokkan pantatnya.
"Oohh.. Jon.. Akuu.. Jugaa, Enakk," sahut Mbak Dewi.
Gerakkan naik turun pantat Mbak Dewi yang diselingi gerakkan
meliuk-liuk, semakin lama semakin cepat membuat joni tak tahan lagi.
Sekitar lima belas menit berlalu, Joni merasakan penisnya
berkedut-kedut.
"Akkhh.. Akuu.. Mauu.. Ke.. Keluarr.. Mbakk," Jerit Joni.
Semenit kemudian, dengan diiringi teriakkan yang sangat keras, Joni
mencapai orgasmenya. Tanpa menghiraukan Joni yang telah mencapai
orgasmenya, Mbak Dewi terus menggoyang pantatnya diatas selangkangan
Joni, sambil meremas-remas buah dadanya sendiri. Azis yang sedari tadi
mengintip, tak dapat lagi manahan nafsu birahinya. Sambil melepaskan
seluruh pakaiannya, Azis mendekat dan berdiri disamping Mbak Dewi yang
masih bergoyang erotis diatas selangkangan Joni.
Azis menyodorkan penisnya yang sudah tegang kewajah Mbak Dewi. Mbak
Dewi yang belum mencapai puncak kenikmatan, mendekatkan wajahnya ke
selangkangan Azis. Diraihnya penis Azis dan dikocok-kocoknya sebentar.
Tanpa membuang waktu lagi, Mbak Dewi membuka mulutnya dan menjulurkan
lidahnya, menjilati penis Azis.
"Ohh.. Mbak.. nik.. matt," desis Azis, saat Mbak Dewi mengulum
penisnya. Mulut Mbak dewi penuh sesak oleh batang penis Azis yang besar
dan panjang. Mbak Dewi menggerakkan kepalanya maju mundur membuat penis
Azis keluar masuk dari mulutnya. Pipi Mbak Dewi sampai kempot, saking
bernafsunya menjilati penis Azis.
Sepuluh menit berlalu Mbak Dewi melepaskan kulumannya pada penis
Azis, kemudian dia merebahkan tubuhnya ditanah. Disamping Joni yang
telah tertidur pulas. Azis tahu kalau Mbak Dewi sudah tak sabar lagi
merasakan keperkasaan penisnya.
Azis kemudian berjongkok diselangkangan wanita itu. Kedua paha Mbak
Dewi dibukanya lebar-lebar. Azis menggenggam penisnya yang sudah tegang
penuh dan mengarahkannya pas ke lubang vagina Mbak Dewi. Perlahan Azis
menurunkan pantatnya membuat kepala penisnya masuk ke lubang vagina
Mbak
Dewi.
"Aow.. Zis.. perih.. sakit, "jerit Mbak Dewi menahan perih saat
seluruh batang penis Azis menerobos masuk dan menggesek dinding
vaginanya. Tanpa membuang-buang waktu, Azis langsung menggenjot Mbak
Dewi.
"Ohh.. Zis.. Enakk.. Teruss.. Nikmatt," Jerit Mbak Dewi sesaat
kemudian, ketika rasa sakit pada dinding vaginanya mulai menghilang dan
berganti dengan rasa nikmat.
Jeritan-jeritan Mbak Dewi yang diselingi desahan-desahan nikmat
membuat Azis semakin bersemangat memaju mundurkan pantatnya. Dari bawah
Mbak Dewi mengimbangi gerakkan pantat Azis dengan menyodok-nyodokkan
pantatnya. Beberapa saat kemudian, bagian dalam dinding vagina Mbak
Dewi berdenyut-denyut dan menjepit keras penis Azis. Tubuhnya
terhentak-hentak dan bergerak liar, diiringi teriakkan yang sangat
keras, Mbak Dewi mencapai orgasme.
Azis yang belum mencapai puncak kenikmatan tak mau rugi. Dia
mencabut penisnya yang masih tegang dari lubang vagina Mbak Dewi. Azis
menyuruh Mbak Dewi telungkup. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman
bersetubuh dengan banyak pria saat menjadi TKW, Mbak Dewi tahu apa yang
diinginkan
Azis. Dia mengangkat sedikit pantatnya dan membuka kedua pahanya.
Azis mengocok-ngocok penisnya sebentar kemudian mengarahkannya ke
lubang anus Mbak Dewi. Setelah penisnya berada tepat di lubang anus
Mbak Dewi, Azis mulai mendorong maju pantatnya. Mbak Dewi meringis saat
penis Azis menerobos masuk ke lubang anusnya.
"Oohh.. Zis.. enakk.. gilaa," desis Mbak Dewi ketika Azis mulai
menggerakkan pantatnya naik turun sambil meremas-remas pantat Mbak
Dewi.
"Akuu.. Juga.. Mbak.. Anus.. Mbak.. Enakk," sahut Azis.
Azis merasakan penisnya dijepit dan seperti dipijit-pijit oleh sempitnya lubang anus Mbak Dewi.
Azis semakin cepat menggerakkan pantatnya saat dirasakannya orgasmenya akan segera tiba.
"Mbak.. akuu.. keluarr," jerit Azis keras saat mencapai puncak
kenikmatan. Dia menyemprotkan sperma yang sangat banyak dilubang anus
Mbak Dewi. Tak lama berselang Mbak Dewi menjerit keras saat mencapai
orgasme yang kedua kali. Sesaat kemudian Azis merebahkan tubuhnya
disamping Mbak Dewi.
Setelah beristirahat sepuluh menit, nafsu birahi Mbak Dewi bangkit
lagi. Mbak Dewi yang memiliki nafsu birahi yang sangat tinggi, bangun
dari tidurnya, kemudian duduk sambil memandangi kedua anak muda yang
sedang tidur mengapitnya.
Kedua tangannya bergerak, meraba-raba selangkangan Azis dan Joni.
Tangan kirinya mengelus-elus dan mengocok-ngocok penis Joni sedangkan
tangan kanannya melakukkan halnya yang sama pada penis Azis yang tidur
di sebelah kanannya. Perlahan-lahan kedua penis Joni dan Azis mulai
tegang.
Kedua pemuda itu kemudian bangkit dan berdiri mengapit Mbak Dewi.
Sambil tersenyum, Mbak Dewi kemudian berjongkok, Mbak Dewi menempatkan
wajahnya diantara selangkangan Joni dan Azis. Dan secara bergantian
Mbak Dewi mengocok-ngocok dan mengulum kedua penis anak muda itu.
Sekitar lima belas menit berlalu mereka merubah posisi. Azis tidur
terlentang dengan kedua kaki berselonjor. Mbak Dewi kemudian menindih
tubuh Azis dari atas. Tangannya meraih penis Azis dan menempelkannya ke
lubang vaginanya. Mbak Dewi mendorong pantatnya membuat seluruh penis
Azis masuk ke lubang vaginanya. Dengan irama pelan Mbak dewi mulai
menaik turunkan pantatnya.
Joni yang sedang berdiri tak mau hanya menonton saja. Joni kemudian
mengangkangi pantat Mbak Dewi. Dia mengarahkan penisnya tepat ke lubang
anus Mbak Dewi, dan mendorong pantatnya dengan keras, sehingga seluruh
batang penisnya masuk ke lubang anus Mbak Dewi.
Mbak Dewi merasakan sensasi yang luar biasa hebatnya dikedua lubang
bawahnya saat penis Joni dan Azis mengaduk-aduk lubang vagina dan
lubang anusnya. Hentakkan-hentakkan kedua penis anak muda itu dikedua
lubang bawahnya, memberinya kenikmatan yang tiada taranya.
Sodokkan-sodokkan penis Azis pada lubang vaginanya dari bawah dan
kocokkan penis Joni pada lubang anusnya dari atas, yang semakin lama
semakin cepat membuatnya tak dapat bertahan lebih lama.
Mbak Dewi merasakan tubuhnya seperti melayang, otot-otot vaginanya
menegang dan tubuhnya bergerak liar. Mbak Dewi mencengkeram pantat Joni
kuat-kuat sambil meminta kedua pemuda itu lebih cepat lagi menghujam
kedua lubang bawahnya.
Azis dan Joni yang juga merasakan orgasmenya hampir sampai menekan
dalam-dalam penis masing-masing. Dan hampir bersamaan cairan hangat
menyembur dikedua lubang Mbak Dewi. Tubuh ketiga insan itu bergetar
hebat merasakan kenikmatan yang sangat hebat. Dibarengi teriakan yang
sangat keras, tubuh mereka mengejang hampir bersamaan. Kemudian mereka
terkulai lemas.
Hampir semalam penuh mereka bertiga merasakan nikmatnya bersetubuh.
Sampai ketiga benar-benar kehabisan tenaga dan tertidur pulas. Dan
hari-hari selanjutnya Mbak Dewi menjadi piala bergilir, bukan Joni dan
Azis saja yang menikmati tubuhnya. Hampir sebagian besar pemuda kampung
juga merasakan nikmatnya tubuh Mbak Dewi.
Mbak Dewi yang haus seks, sangat menikmati disetubuhi lebih dari
satu pria. Bahkan pernah suatu malam, sekitar sepuluh pria kampung
menyetubuhinya. Mas Parjo suaminya, hanya diam dan tak dapat berbuat
apa-apa. Walaupun mengetahui istrinya menjadi piala bergilir pemuda
kampung. Dan Azislah yang paling sering menyetubuhi Mbak Dewi dan
membuatnya tergila-gila.
Hari Minggu itu sebenarnya Azis sedikit malas dengan permintaan ayahnya
agar Azis mengantar Bu Yuli, ibu tirinya, istri ketiga ayahnya,
kondangan ke kampung sebelah. Karena Bu Yuli, orangnya sangat judes. Bu
Yuli, wanita muda yang sebenarnya lebih tepat menjadi kakaknya, karena
usianya
hanya setahun lebih tua dari Azis, tidak begitu akrab dengan Azis.
Tapi karena menghormati ayahnya, Azis melangkahkan juga kakinya ke
rumah ibu tirinya, yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Sampai
dirumah Bu Yuli, Azis mendapati rumah dalam keadaan sepi, dia nyelonong
aja masuk dan duduk di ruang tamu yang berdekatan dengan kamar Bu Yuli.
Sekitar tiga puluh menit menunggu, Bu Yuli keluar dari kamar mandi
dan berjalan menuju kamarnya, hanya mengenakan selembar handuk yang
dililitkan ditubuhnya. Sehingga Azis sekilas dapat melihat paha mulus
Ibu Tirinya.
Sebagai laki-laki normal dan sudah biasa bersetubuh dengan wanita,
nafsu birahi Azis bergejolak disuguhi pemandangan seperti itu. Tanpa
berpikir panjang lagi Azis mengikuti langkah ibu tirinya ke kamar.
Bu Yuli yang sedang berdiri sambil melepaskan handuk yang melilit
ditubuhnya sama sekali tak menyangka kalau Azis ikut masuk ke kamarnya.
Bu Yuli sangat terkejut saat Azis memeluk dengan kuat tubuhnya yang
telanjang bulat sambil menciumi lehernya dari belakang.
Bu Yuli berteriak keras, tetapi dengan cekatan tangan Azis yang
kuat membekap mulutnya. Azis mendorong tubuh ibu tirinya keranjang
hingga jatuh dan terlentang lalu menindihnya. Bu Yuli memberontak tapi
sia-sia, Azis terlalu kuat baginya. Dengan mudah Azis meringkusnya.
Azis menyumpal mulut Bu Yuli dengan handuk yang tadi dikenakannya. Azis
menelikung kedua tangan Bu Yuli kebelakang dan menahan dengan kuat
kedua kaki Bu Yuli dengan kakinya.
Bu Yuli mulai putus asa dan menangis. Azis tahu kalau Bu Yuli sudah
kehabisan tenaga, dengan santai Azis melepaskan seluruh pakaiannya.
Kemudian Azis mulai menciumi dan menjilati kedua buah dada Bu Yuli,
secara bergantian.
Cukup lama Azis menjilati kedua buah dada ibu tirinya, kini
wajahnya merangkaki perut Bu Yuli, dengan mulut yang terus menjilati,
tangannya meraba-raba selangkangan dan mencucuk-cucuk lubang vagina Bu
Yuli yang menggunduk.
Sesaat kemudian Azis memindahkan jilatannya keselangkangan Bu Yuli.
Kedua tangannya membuka lebar-lebar kedua paha Bu Yuli. Bu Yuli hanya
pasrah saat Azis menjilati pangkal pahanya. Bahkan Bu Yuli yang sangat
jarang disentuh suaminya, ayah Azis, mulai terangsang dan
mendesah-desah, saat lidah Azis menyapu dan menjilati bibir vagina yang
merah merekah dan berbulu lebat.
Perlahan Bu Yuli merasakan lubang vaginanya mulai basah. Azis yang
tahu kalau Bu Yuli sudah terangsang, semakin bersemangat menjilati dan
menyedot-nyedot klitoris Bu Yuli. Nafas Bu Yuli ngos-ngosan menahan
nafsu birahinya. Azis sangat lihai merangsang Bu Yuli. Membuat suasana
menjadi terbalik. Kini Bu Yuli sudah tak sabar lagi menunggu Azis untuk
segera menyetubuhinya.
Beberapa saat kemudian Azis menyudahi jilatannya pada vagina Bu
Yuli. Dia kemudian berjongkok diselangkangan Bu Yuli. Bu Yuli yang
sudah tak sabar lagi meraih dan mengocok-ngocok penis Azis, kemudian Bu
Yuli mengarahkan penis Azis ke lubang vaginanya. Bu Yuli menjerit saat
merasakan kepala penis Azis mendesak gerbang vaginanya. Azis semakin
keras mendorong pantatnya hingga seluruh batang penisnya yang besar dan
panjang masuk ke lubang vagina Bu Yuli.
Bu Yuli menjerit dan mendesah-desah saat penis Azis menggesek-gesek
lubang vaginanya. Bu Yuli menyodok-nyodokkan dan meliuk-liukkan
pantatnya menyambut gerakkan naik turun pantat Azis. Sambil terus
menggoyang-goyangkan pantatnya, azis melepaskan handuk yang menyumpal
mulut Bu Yuli. Kemudian dia mendekatkan mulutnya ke mulut Bu Yuli dan
melumat mulut Bu Yuli. Bu yuli menyambut lumatan Azis dengan
pagutan-pagutan yang tak kalah hebatnya.
"Oohh.. Ziss.. teruss.. genjott.. akuu," desah Bu Yuli tanpa malu-malu.
Bu Yuli semakin cepat menyodok-nyodokkan dan meliuk-liukkan
pantatnya, saat dia merasakan seluruh otot-otot tubuhnya menegang. Dan
merasakan sesuatu yang mendesak-desak ingin keluar dari lubang
vaginanya. Tangannya mencengkeram kuat pinggang Azis saat saat
orgasmenya datang. Cairan
hangat merembesi dinding-dinding vaginanya. Beberapa saat kemudian
Azis merasakan hal yang sama, dia seperti orang gila, tubuhnya bergerak
liar dan dia semakin cepat menyodok-nyodok lubang vagina Bu Yuli.
Mulutnya meracau, mengeluarkan kata-kata kotor.
Azis menekan dada Bu Yuli dengan kuat dan menyusul menyemprotkan
spermanya ke dalam lubang vagina Bu Yuli. Kemudian tubuh Azis terkulai
lemas, menindih tubuh Bu Yuli.
Setelah beristirahat sekitar tiga puluh menit, Bu Yuli merasakan
nafsu birahinya bangkit lagi. Bu Yuli mendorong tubuh Azis yang
menindihnya hingga terlentang diranjang. Kemudian Bu Yuli duduk di
samping Azis yang masih tertidur pulas. Tangannya meraba-raba
selangkangan Azis dan mengelus-elus penis Azis. Perlahan penis Azis
mulai menegang. Tanpa melepaskan penis Azis dari genggamannya, Bu Yuli
menundukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya keselangkangan Azis.
Mulut Bu Yuli terbuka dan mulai menjilati dan mengulum batang penis
Azis. Dari kepala hingga pangkal penis Azis dijilati dan dikulumnya.
Buah pelir Azis juga diseruputnya.
Azis terbangun dari tidurnya dan tersenyum ke arah Bu Yuli yang
sedang asyik mengulum penisnya. Sesaat kemudian Bu Yuli menyudahi
kulumannya pada penis Azis. Kemudian Dia berjongkok di selangkangan
Azis, diraihnya penis Azis dan ditempelkannya kebibir vaginanya.
Sedikit demi sedikit Bu Yuli menurunkan pantatnya. Hingga seluruh
batang penis Azis amblas tertelan lubang vaginanya.
Azis mendesah-desah penuh nikmat saat Bu Yuli mulai menggerakkan
pantatnya naik turun diselingi gerakkan berputar. Keadaan sudah sangat
terbalik, Bu Yuli yang tadi menolak disetubuhi kini lebih agresif. Dan
Bu Yuli semakin cepat menggoyang pantatnya saat dia merasakan puncak
kenikmatan benar-benar sudah dekat. Dibarengi teriakkan panjang Bu Yuli
mencapai orgasmenya.
Bu Yuli sebenarnya sudah sangat lelah saat Azis menyuruhnya berdiri
menghadap ke dinding kamar. Tapi karena tidak mau membuat Azis kecewa
dan marah, maka Bu Yuli menuruti permintaan Azis. Azis kemudian
mendekat ke arah Bu Yuli yang sedang berdiri lalu berjongkok dibelakang
Bu Yuli. Azis meraba-raba dan meremas-remas pantat Bu Yuli yang padat
dan kenyal. Kemudian Azis memasukkan jari telunjuknya ke lubang anus Bu
Yuli.
Bu Yuli mendesah saat Azis menciumi dan menjilati lubang anusnya.
Jilatan lidah Azis pada lubang anusnya, membuat Bu Yuli merasa geli dan
perlahan nafsu birahinya bangkit lagi. Bu Yuli menggelinjang saat lidah
Azis mencucuk-cucuk lubang anusnya.
Puas menjilati lubang anus Bu Yuli, Azis kemudian berdiri sambil
mengarahkan penisnya ke lubang anus Bu Yuli. Bu Yuli menjerit keras
saat penis Azis memaksa menembusi lubang pantatnya. Bu Yuli merasakan
bibir dan dinding anusnya panas dan perih.
Bu Yuli melolong lebih keras saat Azis mendorong dan menarik
pantatnya, membuat penis Azis keluar masuk dari lubang anusnya. Azis
sangat menikmati sempitnya lubang anus Bu Yuli yang memang belum pernah
disodomi.
Dengan memegang erat pinggang Bu Yuli, Azis semakin cepat
mendorong-dorong pantatnya saat dirasakannya orgasme sudah dekat. penis
Azis berkedut-kedut, otot-otot tobuhnya menegang, nafasnya memburu.
Dan Azis menjerit keras dan panjang saat mencapai orgasme. Dia
menyemprotkan sperma yang sangat banyak dilubang anus Bu Yuli. Sambil
mencabut penisnya dari lubang anus Bu Yuli, Azis menyuruh Bu Yuli
berjongkok di depannya. Azis mendekatkan penisnya kewajah Bu Yuli.
Bu Yuli mengeleng-gelengkan kepala, menolak permintaan Azis, untuk
menjilati sisa-sisa spermanya. Azis tak kehilangan akal. Azis mencekek
leher Bu Yuli dan memencet hidungnya. Saat Bu Yuli yang kesulitan
bernafas terpaksa membuka mulutnya, Azis langsung menyodokkan penisnya
dan
menjejalkannya ke mulut Bu Yuli.
Bu Yuli merasa mual dan mau muntah tetapi dia tak berani menolak
permintaan Azis. Bu Yuli menggerakkan bibirnya dan menjilati sisa-sisa
sperma Azis sampai bersih tak tersisa. Azis tersenyum bangga bisa
menundukkan Bu Yuli, ibu tirinya yang selama ini kurang menyukainya dan
sangat Judes.
Dan sejak saat itu Bu Yuli sangat baik padanya. Bu Yuli tak pernah
menolak apapun yang diinginkan Azis termasuk kalau Azis ingin menikmati
kemolekan tubuhnya. Bahkan Bu Yuli yang seringkali merayu agar Azis mau
menyetubuhinya. Kehebatan Azis memuaskannya di atas ranjang, membuat Bu
Yuli betul-betul ketagihan merasakan nikmatnya sodokkan penis Azis yang
besar dan panjang.
Bersama Azis, anak tirinya, Bu Yuli betul-betul menemukan dan
merasakan kenikmatan yang sangat jarang dia dapatkan dari Pak Broto,
suaminya yang juga ayah Azis. Azis membuatnya tergila-gila dan dia mau
melakukan apa saja yang Azis inginkan.
Jika nafsu birahi sedang memuncak, Bu Yuli tak segan-segan datang
kerumah Azis untuk meminta Azis menyetubuhinya. Dia sudah tak perduli
lagi kalau Azis adalah anak tirinya.
Bahkan sebulan kemudian dengan alasan suasana kampung yang semakin
rawan, Bu Yuli meminta kepada Pak Broto agar mengijinkan Azis tinggal
bersamanya. Tujuan sebenarnya tak lain, agar dia bisa lebih sering bisa
mereguk kenikmatan bersama Azis. Dan tanpa curiga sedikitpun Pak Broto
meluluskan keinginan istri termudanya. Pak Broto sama sekali tidak tahu
kalau istri mudanya disetubuhi anak kandungnya. Diusianya yang sudah
tua, dia tidak mampu lagi memuaskan nafsu istri mudanya yang sedang
meledak-ledak.
Demikianlah kisah Azis si Pejantan Kampung, yang benar-benar
perkasa dan berhasil menyetubuhi wanita-wanita dikampungnya, terutama
istri-istri yang kesepian.
E N D
----
« Hot Zone
« Back
« Home
« New & Fresh
2113